Wacana Geliat Ekonomi Pedesaan di Kabupaten Jepara

Ali Ahsan Al-Haris Written by Ali Ahsan Al-Haris
· 2 min read >

Wacana Geliat Ekonomi Pedesaan di Jepara

JeparaUpdate.co – Identitas Indonesia sebagai negara tropis yang subur hingga kini belum berbanding lurus dengan kemakmuran para petaninya. Bahkan fenomena petani yang terpaksa meninggalkan lahan sawah, ladang, tegalan dan perkebunan lantaran tak memberi kecukupan penghasilan sehari-hari lumrah kita temui di berbagai daerah di Indonesia.

Fenomena tersebut diperparah dengan fakta bahwa 56% keluarga petani di desa-desa hanya menguasai kurang dari 0,5 hektar lahan pertanian. Selebihnya, ada 2.452 badan usaha pertanian berskala besar yang mengelola lahan sangat luas (Kemendesa, 2016). Hal ini tidak mengherankan jika hingga saat ini masalah kekurangan pangan justru menimpa masyarakat desa.

Pemerintah tentu tidak tinggal diam dan tak berpangku tangan melihat fenomena ini. Berbagai upaya telah dilakukan, salah satunya dengan mengembangkan Program Satu Desa Satu Produk atau One Village One Product (OVOP). Awal mula gagasan ini adalah gerakan revitalisasi ekonomi regional yang di inisiasi oleh Gubernur Provinsi Oita, Morihiko Hiramatsu di tahun 1979, di Oita Jepang.

OVOP bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa di Jepang. Hasilnya, sangat memuaskan di mana tingkat perekonomian masyarakat desa-desa di Provinsi Oita mengalami kenaikan drastis. Bahkan bukan itu saja, dampak dari kesuksesan program OVOP ini kemudian ditiru oleh prefektur lain di Jepang.

Indonesia tercatat mulai meniru program OVOP di tahun 2007 berdasarkan Peraturan Kementerian Perindustrian No. 78/M-IND/9/2007. Program OVOP adalah strategi agar produksi desa memiliki skala ekonomi dan memastikan bahwa desa di Indonesia siap menghadapi persaingan ketat dalam penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Pertanyaan adalah, mengapa program one village one product? Bukan satu provinsi satu produk?

“Karena kalau satu provinsi satu produk, kita tidak bisa memberikan kesempatan pada pengusaha kecil menengah untuk masuk,” ujar Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi, Eko Sandjojo saat berkesempatan menjadi pembicara pada workshop lawasan perdesaan di IPB.

Meskipun OVOP bukanlah program Kementerian Desa semata. Program OVOP ini melibatkan beberapa Kemeneterian seperti Pertanian, Koperasi, dll, yang mana tujuan utamanya setelah program OVOP ini berhasil, akan diperluas di tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi.

Seperti tulisan saya sebelumnya tentang ‘desa wisata’, peran BUMDES akan sangat penting karena menyokong pendanaan dan tata kelola untuk menjadi desa yang mandiri secara ekonomi. Kondisi geografis setiap desa yang berbeda, perlu dibuatkan model bisnis yang nantinya dapat membawa dunia usaha dapat masuk, baik itu bidang ketahanan pangan maupun pariwisata.

Kabupaten Jepara yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, industri kreatif, juga perikanan, jadi sudah semestinya fokus menggalakkan program ini ke setiap desa.. Produk yang dikembangkan setiap desa di Jepara wajib memiliki ciri khas yang membedakan dengan desa lainnya. Jika program ini berjalan, investor pasti akan melirik dan menanamkan modal.

Desa-desa di Kabupaten Jepara memiliki ciri khas masing-masing, dari segi geografis, sosial dan budayanya. Bila Pemerintah Kabupaten Jepara dapat memberdayakan potensi-potensi di setiap desa secara maksimal, hal ini bakal menjadi potensi besar bagi pertumbuhan ekonomi desa, daerah, dan nasional secara luas.

Untuk mengatasi lemahnya sistem pemasaran produk-produk unggulan desa lebih berkembang, Pemerintah Kabupaten Jepara dapat menjalin kerjasama dengan berbagai sektor seperti kementerian dan lembaga. Tidak ketinggalan juga mengajak kalangan pengusaha lewat bantuan CSR (Corporate Social Responsibility). Selain mendapatkan CSR, pengetahuan perihal pengelolaan pemasaran bakal menjadi keuntungan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Jepara dan Desa yang menerima bantuan dana tersebut.

Berkaca dari desa Karangrandu Pecangaan Jepara, berdirinya Pasar Sore Karangrandu (PSK) membuat bergeliatnya pertumbuhan ekonomi di sekitar pasar. Pasar Sore Karangrandu (PSK) mampu menyerap tenaga kerja, memunculkan produk-produk khas desa, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjadi pusat geliat ekonomi perdesaan.

Ini hanya contoh kecil saja, lantas bagaimana jika semua desa yang ada di Kabupaten Jepara memiliki produk ciri khasnya masing-masing?

Jika pemerintah Kabupaten Jepara ingin melihat semua desanya mandiri secara ekonomi, ini adalah jalan sunyi yang perlu dilalui pemerintah hari ini.

Written by Ali Ahsan Al-Haris
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (QS. 93:7) Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *