Sejarah, Wisata

Asal Mula Tradisi Perang Obor dan Makna di Baliknya

Avatar Written by Ahmad Ali Buni
· 2 min read >

Perang Obor Tegalsambi Jepara

JeparaUpdate.co – Jepara Bumi Kartini kita tak hanya kaya karena seni ukir dan potensi alamnya, tetapi juga kaya akan tradisi dan kearifan lokal (local wisdom) yang patut untuk kita junjung dan lestarikan bersama. Dan dari sekian banyak tradisi dan kearifan lokal yang ada, ada satu tradisi yang turut menjadi salah satu tradisiikonik-nya Jepara: Perang Obor.

Apa itu Perang Obor, bagaimana asal-usulnya, dan bagaimana pemaknaannya, simak ulasan berikut ini:

Perang Obor

Perang Obor atau yang biasa disebut dengan obor-obor, merupakan upacara tradisional yang dimiliki masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara.

Sesuai dengan namanya, Perang Obor merupakan ritual tradisional yang dilakukan di kegelapan malam yang dilakukan layaknya sebuah perang api. Perang Obor merupakan ritual kuno yang sudah ada sejak awal abad ke-16 yang sekaligus menjadi ciri khas dari Desa Tegalsambi itu sendiri.

Perang Obor rutin digelar setiap tahunnya pada Senin Pahing di Bulan Dzulhijjah (Besar) dan merupakan puncak dari rangkaian upacara/ritual sedekah bumi di Desa Tegalsambi.

Asal Mula

Berdasarkan pada tutur-tinular yang beredar di masyarakat Tegalsambi, konon perang obor bermula dari kisah seorang Tokoh Desa Tegalsambi yang bernama Kyai Babadan dengan abdinya yang bernama Ki Gemblong.

Kyai Babadan yang memiliki puluhan kambing dan sapi mengamanatkan kepada Ki Gemblong untuk merawat dan menggembalakan hewan ternaknya tersebut. Akan tetapi, karena keasyikan memancing ikan dan udang di sungai, Ki Gemblong jadi lalai akan tugas. Akibatnya, hewan ternak tersebut terlupakan sehingga banyak yang jatuh sakit bahkan mati.

*Versi lain ada yang menyebutkan bahwa yang menjadi penyebab ternak tersebut banyak yang jatuh sakit dan mati adalah karena Pagebluk .

Tidak lama berselang, pada suatu malam Kyai Babadan datang ke kandang untuk mengecek kondisi ternaknya. Mengetahui kondisi ternaknya yang pada jatuh sakit dan mati, Kyai Babadan murka. Karena marah dan tidak terima, Kyai Babadan menyalahkan dan menghajar Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa yang dibawanya.

  Meluruskan Fakta: Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya?

Ki Gembong yang merasa posisinya terancam pun membela diri dengan melakukan hal serupa. Pertikaian sengit pun terjadi di lokasi kandang ternak tersebut.

Karena pertarungan sengit antara keduanya yang saling sabet dengan obor, tak pelak percikan api pun berceceran di mana-mana juga di antara tumpukan jerami yang mengakibatkan munculnya kobaran api di sekitar kandang. Dan anehnya, kondisi tersebut justru malah membuat ternak yang tadinya pada sakit mendadak sembuh dan giras kembali.

Sadar akan hal itu, keduanya pun menghentikan pertikaiannya. Dan sejak saat itulah, masyarakat Tegalsambi (khususnya) percaya dan memulai tradisi Perang Obor atau obor-obor dengan tujuan untuk menolak segala bala.

Prosesi Perang Obor

Pelaksanaan Perang Obor ditentukan berdasarkan pada perhitungan kalender Jawa atau Arab, yakni jatuh pada hari Senin Pahing di bulan Dzulhijjah (Jawa: Besar). Persiapannya pun dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, mengingat berbagai perlengkapan dan besarnya biaya yang diperlukan—termasuk berbagai hal yang menjadi rangkaian dari ritual sedekah bumi itu sendiri.

Sedekah Bumi Desa Tegalsambi

Perang Obor selalu diidentikkan dengan sedekah bumi Desa Tegalsambi, yang mana rangkaian prosesinya dilakukan mulai dari membersihkan makam dan petilasan para leluhur, menyiapkan sesajian, selamatan dan berdoa, makan bersama atau dhahar kembul, kemudian ditutup dengan Perang Obor itu sendiri sebagai puncak acaranya.

Sejak dulu, pelaksanaan Perang Obor bertempat di perempatan Desa Tegalsambi yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai petilasannya Ki Gemblong.

Spesifikasi obor yang digunakan dalam Perang Obor menggunakan bahan baku blarak atau daun kelapa kering yang pada bagian tengahnya disisipak klaras atau daun pisang kering.

Masyarakat yang dibolehkan menjadi peserta adalah laki-laki warga asli Desa Tegalsambi yang berumur minimal 17 tahun, sehat jasmani dan rohani, serta merupakan pribadi yang tidak gampang emosi.

  Pemikiran dan Gagasan Besar Gus Dur yang Masih Relevan Hingga Saat ini

Persyaratan lainnya adalah Para peserta juga tidak boleh saling memukulkan obornya ke tubuh peserta lainnya, melainkan hanya ke obor satu sama lain, dan harus dari arah depan.

Jika terjadi luka-luka yang diakibatkan selama ritual, luka tersebut akan diobati dengan minyak khusus yang terdiri dari kelapa yang campur dengan bunga telon (tiga macam atau warna) yang digunakan untuk sesaji pusaka Tegalsambi. Konon, bila luka tersebut diobati secara medis, masyarakat meyakini luka tersebut tidak dapat sembuh.

Sama halnya dengan interpretasi yang ada di daerah lain, sedekah bumi Desa Tegalsambi juga merupakan sebuah wujud ekspresi rasa syukur (masyarakat Jawa pada umumnya) kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala yang telah terberi. Tradisi selamatan dan Perang Obor ini mengandung makna untuk mengingat, menghormati serta mendoakan para leluhur yang telah berjasa terhadap desa. Berbagai rangkaian prosesi Perang Obor yang melibatkan semua unsur masyarakat menunjukkan betapa kuatnya nilai gotong royong yang ada di masyarakat.

Sampai sekarang, tradisi unik ini semakin diminati oleh berbagai kalangan baik dari masyarakat sekitar maupun luar daerah. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran masyarakat dan pemerintah setempat dalam nguri-nguri budaya dan kearifan lokal tersebut, tetapi juga memaksimalkan potensinya sebagai sebuah tradisi yang memiliki nilai hiburan yang dapat dipertontonkan dalam kemasan sebuah festival budaya.

Tertarik untuk menyaksikan festival budaya unik ini? Tahun ini Perang Obor akan diselenggarakan pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019. Jangan sampai terlewatkan!

Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

Wisata Pulau Komodo

Andreanus Gunawan in Wisata
  ·   3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *