Wajah Pilkades Desa Karangrandu Hari Ini

Calon Baru Hanya Kampanye Selama Sebulan, Calon Petahana Kampanye Sepanjang Tahun

Ali Ahsan Al-Haris Written by Ali Ahsan Al-Haris
· 3 min read >
Wajah Pilkades Desa Karangrandu Hari Ini

Calon Baru Hanya Kampanye Selama Sebulan, Calon Petahana Kampanye Sepanjang Tahun


JeparaUpdate.co – Selama hidup di Desa Karangrandu, saya akan mengalami pemilihan Kepala Desa secara lanngsung untuk ketiga kalinya. Dalam perjalanannya, banyak fenomena politik yang muncul, khususnya mengenai maraknya figur Petahana (incumbent) dalam Pilkades.

Istilah “Petahana” diperkenalkan Salomo Simanungkalit dalam rubrik bahasa Kompas di mana disebutkan petahana yang berasal dari kata “tahana” dalam kamus besar besar bahasa Indonesia memiliki arti sebagai kedudukan, martabat, kebesaran ataupun kedudukan.

Perlu kita ketahui bersama, figur incumbent menjadi kekuatan baru, hal tersebut dapat kita ketahui pada tahun 2005 calon petahana mengikuti 210 dari total 224 pilkada. Mereka menang di 124 daerah (59,05%) dan kalah di 86 daerah (40,95%). Pada tahun 2007, tren kemenangan petahana menurun. Dari 31 calon incumbent yang maju dalam pilkada, setengahnya (25 orang) mengalami kekalahan.

Pada tahun 2012, figur petahana hanya mampu memenangkan 25 pilkada dari total 73 pilkada di 6 provinsi, 50 kabupaten dan 17 kota. Menurunnya image figur petahana dalam pilkada di tahun 2012 menjadi catatan yang penting, padahal dalam tahun 2005 petahana masih unggul dan calon non-incumbent lain.

Dalam politik, petahana atau incumbent adalah orang yang sedang memangku jabatan politik tertentu dan maju beradu dalam pemilihan untuk jabatan yang sama. Oleh karena itu calon petahana memiliki kekuatan yang lebih ketimbang calon lainnya. Kekuatan itu tak lain berasal dari kekuasaannya sebagai pejabat politik.

Dalam hal ini kekuasaan yang dimiliki oleh figur petahana yang masih menjabat bukan sebagai authority dan legitimasi, tapi lebih kepada pengaruhnya. Hal tersebut sejalan dengan gagasan Robert Dahl dalam definisinya mengenai pengaruh dalam kekuasaan, A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu sebenarnya tidak akan B lakukan.

Dari pandangan tersebut jelas bahwa figur petahana memiliki kekuasaan yang berupa pengaruh kepada birokrasi dan staf administrasi dalam ruang lingkup pemerintahan, sehingga calon petahana memiliki kelebihan dalam sumber daya politik yang lebih besar daripada calon non petahana.

Sehingga pada akhirnya, pengaruh yang dimiliki para petahana memunculkan bentuk pesona terinventaris sebagai kekuatan dalam Pilkades.

Foto Calon Kades Desa Karangrandu
Tiga Calon Kades Desa Karangrandu

Strategi Petahana

Posisi petahana dalam Pilkades bagai buah simalakama, artinya pemilihan Kepala Desa yang akan ia ikuti kembali menjadi putusan rakyat yang telah merasakan kepemimpinannya. Jika berbicara politik etis, kemenangan petahana sangat tergantung pada perilaku pemilih, jika pemilih menganggap calon petahana itu sukses dalam kepemimpinannya, maka akan diberikan ganjaran berupa kemenangan. Tapi jika dianggap gagal dalam memimpin, maka akan diberikan hukuman berupa tidak terpilihnya lagi calon incumbent dalam Pilkades Karangrandu mendatang.

Oleh karena itu, petahana sangat retan jika persepsi masyarakat Desa Karangrandu mengenai kinerjanya dinilai buruk atau bahkan gagal. Ini pada akhirnya membuat petahana tak mudah untuk memenangkan pilkades, karena popularitas petahana bukan faktor utama dalam mendongkrak simpati pemilih.

Kampanye Permanen

Kelebihan calon petahana dengan calon non-petahana lainnya adalah bahwa calon petahana lebih memiliki akses-akses kampanye secara lebih luas, lama dan masif. Kampanye itu bisa dilakukan dengan memberi bantuan sosial dan program yang menarik simpati rakyat menjelang masa jabatannya habis.

Misal saja program bantuan kepada petani, kelompok ibu-ibu pengajian, bantuan sarung dan uang tunai ke Takmir Musholla se-desa, dan lain sebagainya. Metode kampanye semacam ini menjadi kekuatan yang menimbulkan citra positif, dan berakibat pada kecenderungan pemilih untuk memilihnya kembali. Padahal kita tahu, dana yang ia pakai adalah dana desa, bukan dana dari kantong pribadinya.

Saya lebih suka menyebut ini sebagai pemasaran politik. Hal ini biasa dilakukan para politikus yang sedang menjabat atau tengah memerintah sebagai jalan kampanye permanen. Disebut kampanye permanen karena semua aktivitas pejabat yang tengah memerintah (incumbent) pada dasarnya adalah kampanye. Menjalankan tugasnya sebagai pejabat dan pada saat bersamaan secara tidak langsung juga melakukan kampanye.

Untuk pemilih yang awam politik, mereka akan cenderung memilih incumbent daripada calon lain yang masih mengutarakan janji politik semata.

Masa Depan Petahana

Elektabilitas petahana dalam pilkades sangat tergantung dengan faktor popularitas yang ditambah dengan persepsi positif masyarakat mengenai kinerjanya selama menjabat. Jika popularitasnya tinggi dengan tingkat kesukaan yang tinggi pula, maka dapat dikatakan pasti elektabilitasnya akan tinggi. Tapi jika sebaliknya, kemungkinan menang dalam pilkades ke depan akan suit.

Kecenderungan menurunnya kemenangan petahana juga hadir dari semakin cerdasnya para pemilih dan masyarakat. Perilaku pemilih yang rasional juga membuat calon petahana harus mempunyai strategi kampanye yang lebih efektif dan efisien.

Pemilih Rasional

Bagi para pemilih yang mengetahui bahwa selama petahana memimpin program yang dia tawarkan kurang terlaksana dengan maksimal, para pemilik suara dapat memilih para penentang petahana.

Para calon non-petahana harus berjuang lebih besar karena tidak memiliki sumber daya politik sebesar yang petahana miliki. Namun dengan melihat trend kekalahan incumbent dalam beberapa momen pilkada dan pilkades, hal ini dapat memicu semangat bagi para calon dan tim sukses calon non petahana.

Popularitas calon dalam pilkades bukan hanya menjadi faktor utama, persepsi dan kesukaan masyarakat terhadap calon juga menjadi faktor penghubung antara petahana dan calon non petahana.

Sebagai penutup, tulisan ini tidak akan berfaedah sama sekali jika dalam prakteknya kita masih menerima serangan fajar dari tim sukses calon kepala desa. Selain menciderai proses demokrasi, kita dengan sengaja mengamini terpilihnya kepala desa yang menang karena uang, bukan kualitas dan kapabilitasnya dalam memimpin Desa Karangrandu ke depan. Maka Jangan heran jika masih kita temui group Karangrandu Area (KA) penuh dengan hujatan dan makian ke Kepala Desa beserta perangkatnya.

Kalau praktik semacam itu masih saja terjadi, saran saya berhentilah menghujat Pemerintah Desa Karangrandu. Dan mulailah menertawakannya.

Written by Ali Ahsan Al-Haris
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (QS. 93:7) Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *