Krisis Perubahan Iklim, Ancaman Eksistensial bagi Peradaban Manusia

Runtuhnya peradaban kita tidak bisa dihindari. dari aneka penyakit peradaban, seperti ekspansi berlebihan, perubahan iklim, sekarang hanyalah sistem rumit yang terdiri dari...

Avatar Written by Ahmad Ali Buni
· 4 min read >
Krisis Perubahan Iklim (Climate Change)

Belum lama ini saya mendapat informasi dari sebuah video dokumenter yang menunjukkan kalau ‘salju abadi’ Jaya Wijaya semakin terkikis. Bahkan volumenya sekarang bisa dikatakan menuju habis. Ini semakin memperkuat perkiraan-perkiraan sebelumnya yang mengatakan kalau ‘salju abadi’ di Jaya Wijaya akan hilang pada 2020. Benar-benar hilang. But why?

Seperti detik-detik menuju hilangnya salju abadi tadi, sebenarnya itu hanya satu dari sekian bukti nyata dari dampak perubahan iklim yang tengah berlangsung di bawah kolong langit ini. Dan kini, perubahan iklim sudah menjadi krisis.

Ada banyak artikel menarik di LiveSince.Com yang menyoroti masalah-masalah terkait hal ini, yang kemudian saya rangkum menjadi keseluruhan artikel ini.

Krisis Perubahan Iklim

Krisis Perubahan Iklim (Climate Change)

Ini nyata. Sedang terjadi. Bahkan semakin deras. Dan itu semua karena kesalahan kita.

Aktivitas manusia—khususnya produksi gas rumah kaca dari emisi bahan bakar fosil—sedang membentuk ulang planet kita, mempengaruhi perubahan lingkungan yang cepat dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Rata-rata suhu global merayap naik, lautan memanas, naik dan menjadi lebih asam, dan peristiwa cuaca ekstrim seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan badai dahsyat lebih umum terjadi.

Hampir setiap minggu ada laporan baru yang menakutkan tentang bagaimana perubahan iklim buatan manusia akan menyebabkan runtuhnya lapisan es dunia, mengakibatkan kepunahan hingga 1 juta spesies satwa dan—jika itu terlalu jauh—coba lihat apa-apa saja yang sedang terjadi di Indonesia belakangan ini.

Tembusnya rekor tinggi suhu saat siang hari, kemarau panjang, kekeringan di sana-sini, hilangnya beberapa garis pantai dan kawasan pesisir karena abrasi, atau seperti fenomena membekunya beberapa wilayah dataran tinggi seperti Bromo dan Dieng karena suhu ekstrim di malam hari—yang mengakibatkan petani sayur terancam merugi karena gagal panen. Fenomena-fenomena tersebut tidak lain merupakan akibat dari krisis perubahan iklim.

Sebagian Besar Dunia Menghadapi Rekor Suhu Tertinggi Setiap Tahun Tanpa Aksi Iklim Serius

High Temperature (Global Warming)

Disadari atau tidak, Bumi kita semakin panas dan terik.

Ketika saya mengatakan tentang rekor ini, mungkin Anda akan berpikir tentang kemarau panjang yang akan melanda Indonesia. Ya, dilansir dari CNN Indonesia, seperti halnya yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG pada 4 Juli kemarin, Hary Tirto Djatmiko mengatakan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih kering dan panas terik dibanding tahun lalu.

Hary mengatakan salah satu faktor penyebab kekeringan itu sebagai akibat dari fenomena El Nino—fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur—yang berdampak pada kondisi kering dan berkurangnya curah hujan di berbagai daerah Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia saja. Amerika Serikat bagian barat, di mana pada pertengahan Juni kemarin suhunya melonjak di atas 120° F atau setara 49° C, menghancurkan lusinan catatan panas historis dari Oregon ke Arizona.

Atau di India, di mana panas yang hebat telah menghanguskan negara itu selama lebih dari sebulan, menewaskan sedikitnya 36 orang dan memaksa ratusan ribu orang mengungsi dari desa mereka. Atau mungkin Kuwait, di mana media lokal baru-baru ini melaporkan suhu tinggi 145° F (63° C), yang berpotensi jadi rekor suhu tertinggi yang pernah dicatat di Muka Bumi.

Intinya, belahan bumi utara benar-benar panas sekarang dan musim panas baru saja dimulai. Jika sepertinya rekaman gelombang panas ini terjadi lebih sering, itu semua karena kesalahan kita, dan menurut sebuah studi baru yang diterbitkan pada 17 Juni 2019 dalam jurnal Nature Climate Change, tren panas ini akan berlanjut untuk sebagian besar dunia pada setiap tahunnya selama tidak ada tindakan yang diambil untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Peradaban Manusia Akan Hancur Jika Kita Tidak Menghentikan Perubahan Iklim Sekarang

peradaban manusia akan runtuh jika tidak segera melakukan aksi nyata terhadap perubahan iklim

Baru-baru ini, sebuah makalah kebijakan terbaru dari sebuah wadah pemikir-pemikir (think tank) Australia yang berjudul Existential climate-related security risk: A scenario approach, mengklaim bahwa risiko perubahan iklim sebenarnya jauh lebih buruk daripada yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Menurut makalah tersebut, perubahan iklim merupakan “ancaman eksistensial jangka pendek hingga menengah bagi peradaban manusia,” dan ada peluang besar kalau peradaban manusia bisa runtuh begitu tahun 2050 jika tindakan mitigasi serius tidak segera dilakukan.

—Bagaimana Dunia Berakhir

Krisis iklim saat ini lebih besar dan lebih kompleks daripada yang pernah dihadapi manusia sebelumnya. Model iklim umum—seperti yang digunakan United Nations’ Panel on Climate Change (IPCC) pada 2018 untuk memprediksi bahwa peningkatan suhu global sebesar 1,5° C dapat menempatkan ratusan juta orang dalam bahaya.

Bahaya? Ya. Bahaya yang dimaksud di sini adalah kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dari hukum kausalitas yang sedang berlangsung ini, dengan yang paling buruknya seperti ‘bagaimana dunia ini berakhir’.

Telah disinggung dalam makalah sebelumnya, para penulis telah memberikan sebuah skenario yang sangat suram yang dimulai dari Pemerintah Dunia yang dengan sopan mengabaikan’ saran para ilmuwan dan kehendak publik untuk mendekarbonasikan ekonomi (menemukan sumber energi alternatif), menghasilkan peningkatan suhu global hingga 5,4° F atau setara 3° C pada tahun 2050.

*Pada titik ini, lapisan es dunia akan menghilang; kekeringan yang brutal akan membunuh banyak pohon di beberapa hutan hujan (menghilangkan salah satu penyeimbang karbon terbesar di dunia); dan planet ini akan terjun ke dalam lingkaran umpan balik dari kondisi yang semakin panas, dan semakin mematikan. Kira-kira seperti yang digambarkan dalam film Waterworld (1995).

Bagaimana Bencana Masa Depan Ini Dapat Dicegah?

perubahan iklim adalah keadaan darurat

Jawaban yang paling fundamental hanya satu, yakni: Menerima perubahan iklim sebagai keadaan darurat dan mulai bekerja—segera. Namun sayangnya, kebanyakan pihak-pihak yang terkait justru acuh akan hal ini.

Tidak usah jauh-jauh. Di Indonesia saja, yang mana merupakan pabrik oksigen terbesar di dunia, kini justru semakin gencar dalam membabat hutan dan menggantinya dengan sawit dan tambang, gencar mendirikan PLTU—yang secara otomatis berakibat pada bertambahnya tuntutan atas pasokan bahan bakar dan bertambahnya emisi karbon yang dihasilkan, indrustrialisasi di berbagai pelosok negeri—seperti yang terjadi di kota kelahiran saya (Jepara), dan lain sebagainya.

Kesemua wujud kapitalisme yang menggunakan cara-cara kuno—merusak lingkungan—seperti contoh-contoh tadi adalah donatur terbesar atas perubahan iklim yang ekstrim ini.

Menurut penulis makalah di atas, umat manusia memiliki sekitar satu dekade tersisa untuk melakukan gerakan global untuk mentransisikan ekonomi dunia ke sistem emisi nol karbon, pencarian energi alternatif.

Saya tidak ada cara lain yang lebih efektif dari ini. Toh, selama ini Bumi sudah baik kepada kita, terlalu baik. Jadi sekarang, sudah tidak tepat lagi untuk terus menuntut “apa lagi yang bisa diberikan bumi kepada kita,” tetapi “bagaimana kita berlaku baik kepadanya”—atau kita akan celaka.

Renungan: Bumi sedang Demam

Umpamakan saja seperti demam.

Seperti yang kita tahu, demam adalah kondisi ketika suhu tubuh berada di atas angka 38° C. Demam sendiri merupakan bagian dari proses kekebalan tubuh yang sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri, atau parasit. Selain itu, demam juga bisa terjadi pada kondisi hipertiroidisme, artritis, atau karena penggunaan beberapa jenis obat-obatan, termasuk antibiotik.

Manusia saja, begitu dia diserang (virus, bakteri, atau parasit) dia akan melawan (dengan demam tadi). Nah, pertanyaannya adalah, apakah Bumi kita juga demikian?

Maksud saya, apakah sekarang Bumi sudah menganggap kita layaknya virus, bakteri, atau parasit yang sedang melemahkan atau menyakitinya?

Kalau iya, sudah semestinya kita sadar diri. Terlebih jika kita tak ingin bernasib seperti mikroba yang akan dipanggang oleh demam itu sendiri.


Ini nyata. Sedang terjadi. Bahkan semakin deras. Dan itu semua karena kesalahan kita.


 

Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

One Reply to “Krisis Perubahan Iklim, Ancaman Eksistensial bagi Peradaban Manusia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *