Merangkul Organisasi Kepemudaan Sebagai Kader Desa, Bisakah?

Ali Ahsan Al-Haris Written by Ali Ahsan Al-Haris
· 2 min read >

organisasi kepemudaan karangrandu pecangaan jepara

JeparaUpdate.co – Saya sangat senang jika berbicara tentang desa saya dan anak-anak mudanya. Apalagi jika membicarakan pengalaman zaman old saat masih aktif di pelbagai organisasi desa dan terlibat langsung dalam forum-forum diskusi anak-anak Majlis Alternatif Jepara—sekarang telah resmi menjadi ‘Simpul Maiyah’.

Berbicara tentang bagaimana para pemuda-pemuda Desa Karangrandu yang selalu penuh semangat menatap masa depan desanya, adanya organisasi-organisasi resmi maupun kelompok-kelompok belajar dan sosial menjadikan saya optimis jika Karangrandu akan memiliki masa depan yang lebih baik. Pernyataan saya ini berdasar bukti-bukti nyata beberapa kelompok organisasi melakukan proses kreatifnya masing-masing.

Semua yang kita lakukan hari ini tentu akan berimbas pada masa depan, termasuk memilih laku hidup menjadi penulis, babu, PNS, buruh pabrik, tukang kayu, dll. Keputusan memilih profesi tersebut akan membuat kita bertanggung jawab untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih besar. Termasuk memilih mengabdikan diri jadi ‘Kader Desa’.

Secara terminologi, ‘kader’ adalah subyek yang berada dalam suatu organisasi yang bertugas mewujudkan visi misi organisasi tersebut. Sedangkan kader sendiri diharapkan dapat memegang peran strategis di pemerintahan, organisasi, partai politik dan sebagainya.

Dalam konteks Desa, sejujurnya saya agak risih mengistilahkan Kader Desa, karena istilah kader masih ditangkap sebagai representatif partai politik. Sangat eman jika gerakan sosial ini nantinya ditukangi para pemilik kepentingan politis yang mengenyangkan perutnya sendiri.

Namun dalam prakteknya, para kader-kader desa ini akan menjadi kunci dari organisasinya masing-masing dalam mengorganisir dan memimpin rakyat desanya bergerak maju menuju visi yang telah disepakati.

Para pemuda/i yang terpilih mewakili organisasinya masing-masing ini, kelak akan hadir dan ikut berproses secara aktif dalam pengelolaan desa, mulai dari masuk perangkat desa, anggota BPD, pemberdayaan masyarakat, kelompok sadar wisata, kelompok tani, kelompok peternak, kelompok pedagang PSK (Pasar Sore Karangrandu), tokoh agama, tokoh adat, tokoh pendidikan, para pengrajin seni, kelompok emak-emak pengajian, kelompok rebana, dll. Semua perwakilan dari organisasi desa itu berkedudukan sama, tidak lagi memandang gender dan status sosial.

Saya sebagai anak desa, sangat percaya diri bahwa pernyataan di atas adalah jalan keluar bagi Desa Karangrandu menyongsong era baru. Dengan segala keterbatasan dan pengetahuan para pemuda-pemudi yang tergabung dalam Kader Desa, mereka saya yakini akan dapat bergerak secara dinamis, kreatif dengan membawa idealismenya masing-masing.

Saya sadar ini adalah potensi besar bagi Desa Karangrandu, hanya saja belum banyak pihak yang fokus bergerak dalam menyiapkan para pemuda-pemudinya untuk pembangunan dan pemberdayaan desa.

Jika Desa Karangrandu dan Desa lain di Kabupaten Jepara dapat menangkap baik peluang ini, tentu pemerintah Desa, Daerah maupun Pusat, tidak perlu ragu lagi dalam memanfaatkan dana desa yang tujuannya kita ketahui bersama untuk pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia—salah satunya.

Jika kader-kader desa sudah sudah berjalan, tentu pemerintah desa tidak lagi bingung mencari sumber daya manusia yang ahli dalam bidangnya.

Sederhananya, jika Desa Karangrandu butuh orang yang lihai bidang pertanian organik, peternakan, pengembangan wisata, pemimpin organisasi, penggerak masyarakat atau kelompok usaha, bahkan kader-kader konseptor yang kelak menjadi kreator dari segala potensi Desa Karangrandu.

Nah, ini bagian yang seru. Apakah untuk mempersiapkan gagasan ini semua, Pemerintah Desa Karangrandu mau untuk mengikutsertakan para perwakilan semua organisasi, kelompok masyarakat dan banyak elemen yang saya sebutkan di atas untuk duduk bareng membahas perannya sebagai Kader Desa.

Sebagaimana selama ini, Desa Karangrandu yang banyak kelembagaan masyarakat seperti RT, RW, Kelompok Tani, Kelompok Peternak, IPNU, IPPNU, MAJ, Kelompok Bapak/Ibu Haji dan lainya bergerak sendiri-sendiri sesuai visinya masing-masing.

Bukankah sangat elok dipandang jika semua kelembagaan tersebut berkelompok untuk menjadi Kader Desa? Sehingga menjadi ruang baru bagi para perwakilan kelompok tersebut utuk merumuskan, mengusung aspirasi, dan ikut berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, serta mengawal Pemerintah Desa Karangrandu dalam membangun Desa.

Saya kira hanya itu saja. Salam damai dari desa.

Written by Ali Ahsan Al-Haris
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (QS. 93:7) Profile

One Reply to “Merangkul Organisasi Kepemudaan Sebagai Kader Desa, Bisakah?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *