Berita, Opini

NU & Muhammadiyah Masuk Nominasi Penerima Nobel Perdamaian

Daftar Isi tutup NU dan Muhammadiyah Dinominasikan sebagai Penerima Hadiah Nobel Perdamaian Berbagai Alasan Kenapa NU dan Muhammadiyah Pantas Menerima Nobel Perdamaian...

Avatar Written by Ahmad Ali Buni
· 4 min read >
Nobel Peace Prize

Hai, Millennials! Sudah pada tahu belum kalau Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah masuk nominasi penerima Nobel Perdamaian? Hmm. Jujur, saya sendiri juga lagi baru-baru ini mendengar kabar tersebut. Itupun saya dapat infonya setelah membaca cuitan salah satu tokoh NU yang saya ikuti, secara tidak sengaja pula.

Tak pelak, hal ini menarik perhatian saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Dan ternyata benar, NU dan Muhammadiyah masuk nominasi Nobel Perdamaian.

Adakah di antara Millennials yang belum tahu tentang kabar ini? Kalau begitu simak baik-baik ulasan berikut ini.

NU dan Muhammadiyah Dinominasikan sebagai Penerima Hadiah Nobel Perdamaian

Dilansir dari TheJakartaPost – Gagasan ini telah diungkapkan pada akhir Januari kemarin oleh M. Najib Azca, direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), selama peluncuran buku yang berjudul Dua Menyemai Damai, Peran dan Konstribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi yang ditulis oleh tim peneliti PSKP.

Najib mengatakan, “PSKP UGM sedang mempelajari rencana tersebut. UGM akan membuat keputusan dan mengirimkan (usulan) nominasi ke Komite Hadiah Nobel Perdamaian di Norwegia.”

Terlepas dari laporan-laporan media yang suram tentang kekuatan Islam garis keras yang berkembang di negeri ini, universitas percaya bahwa Muslim arus utama di Indonesia (seperti Muhammadiyah dan NU) toleran dan demokratis.

UGM, kata Najib, ingin menyoroti profil Islam Indonesia di panggung internasional. Ia mengatakan, “Islam di Indonesia demokratis, beradab, dan damai. Ini jelas berbeda sekali dengan Islam di negara lain seperti Irak atau Afghanistan yang terus-menerus dirusak oleh konflik.”

Robert W. Hefner, seorang antropolog dari Universitas Boston, yang telah melakukan penelitian luas tentang Islam di Indonesia, mengatakan ia telah mengirim surat kepada komite Hadiah Nobel Perdamaian di Norwegia untuk mencalonkan kedua organisasi tersebut. Ia mengatakan surat tersebut dikirimnya pada tanggal 4 Januari, dan sudah diterima.

Hefner juga menambahkan bahwa telah ada diskusi intensif dan ekstensif di tingkat global tentang peran NU dan Muhammadiyah dalam menciptakan komunitas Muslim yang demokratis dan damai di Indonesia.

Berbagai Alasan Kenapa NU dan Muhammadiyah Pantas Menerima Nobel Perdamaian

Nobel Peace

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kenapa NU dan Muhammadiyah dikategorikan pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian, selengkapnya adalah sebagai berikut:

Peran Penting NU & Muhammadiyah dalam Transisi Demokrasi

Berbicara dalam sebuah diskusi tentang buku yang telah disebutkan sebelumnya, Najib mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU pantas untuk berbagi Hadiah Nobel Perdamaian karena peran penting mereka dalam transisi demokrasi sejak tahun 1998.

“Muhammadiyah dan NU adalah pilar demokrasi dalam menyemai perdamaian positif melalui berbagai kegiatan seperti di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, filantropi, bencana dan kesehatan,” kata Najib.

Muhammadiyah, lanjutnya, juga aktif dalam memfasilitasi rekonsiliasi damai setelah konflik di Poso dan Ambon. Ini menyediakan fasilitas pendidikan di bagian timur Indonesia, yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Sementara itu NU, melalui Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat itu, memainkan peran besar dalam menciptakan perdamaian di Aceh dan Papua. NU memiliki banyak pemikiran tentang kesetaraan gender, pencegahan radikalisme dan Islam Nusantara (Islam yang spesifik Indonesia).

Barisan Ansor Serba Guna (Banser) yang dimiliki NU juga dikenal aktif dalam melindungi kelompok-kelompok minoritas.

Hefner mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat sehingga gagasan demokrasi dan kebangsaan Indonesia dapat diterima oleh semua pihak.

“Demokrasi tidak bisa bekerja hanya dengan bergantung pada pendekatan formal. Perlu sosialisasi dan menanamkan norma,” ujar Hefner.

Hefner mengklaim bahwa Muhammadiyah dan NU telah berhasil mendidik umat Islam untuk menganggap demokrasi dapat diterima.

“Reformasi pendidikan Islam yang diimpikan oleh negara-negara Islam lainnya telah dilakukan di Indonesia sejak lama, terutama oleh Muhammadiyah,” katanya.

Wajah Islam Indonesia: Toleransi Beragama & Moderat

Para cendekiawan terkemuka Indonesia telah mendukung pencalonan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini untuk Hadiah Nobel Perdamaian, dengan dalil bahwa kedua kelompok telah memainkan peran penting dalam mempromosikan toleransi beragama di Indonesia.

Franz Magnis-Suseno, Pastor Katolik dan filsuf terkenal, memuji kedua organisasi ini karena andilnya dalam membentuk wajah Islam Indonesia. Beliau mengatakan bahwa NU dan Muhammadiyah menghadirkan wajah Islam yang sama sekali berbeda dari apa yang coba digambarkan oleh para ekstremis.

Panel pembicara dalam seminar berjudul Menantang Ekstremisme Islam di Indonesia

“Peran mereka sangat penting. Saya dan teman-teman Indonesia saya yang lain mencalonkan NU dan Muhammadiyah untuk Hadiah Nobel,” kata Franz dalam seminar yang berjudul Menantang Ekstremisme Islam di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Oslo dan Peace Research Institute Oslo (PRIO) pada hari Kamis 20 Juni 2019.

Ia menambahkan bahwa kedua kelompok yang didirikan sebelum kemerdekaan Indonesia ini berperan penting dalam pembangunan bangsa.

“Karena sikap mereka, maka Islam Indonesia tetap moderat, orang Indonesia menikmati kedamaian internal dan Indonesia adalah faktor penstabil yang penting di Asia Tenggara dan global,” ujar Magnis.

Para peserta seminar termasuk puluhan akademisi, duta besar, pejabat pemerintahan, perwakilan organisasi sipil Norwegia, serta ketua dewan eksekutif NU Marsudi Syuhud dan sekretaris jenderal Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Acara ini didukung oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional dan Wahid Institute Wahid Institute yang berbasis di Jakarta.

Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, mengatakan bahwa Indonesia saat ini menyaksikan munculnya ekstremisme agama. Ekstremisme semacam itu, katanya, datang dari luar batas negara dan menyebar sebagai akibat dari globalisasi.

Begitu ide-ide mereka mengakar di antara orang-orang Indonesia, konflik-konflik agama akan meletus dan negara itu praktis akan hilang dari dunia, kata Lubis.

“Indonesia akan hancur, sama seperti Suriah,” tambahnya.

Lubis berpendapat bahwa NU dan Muhammadiyah, sebagai “tulang punggung” Islam moderat di Indonesia, sangat penting untuk membendung gelombang ekstrimisme agama.

Sarjana Islam terkemuka Azyumardi Azra mengakui kontribusi kedua organisasi dalam wajah Islam Indonesia.

“Islam Indonesia, tidak diragukan lagi, adalah Islam wasatiyyah (Islam yang adil atau menengah), yang pada umumnya, Islam yang inklusif dan akomodatif dan Islam yang paling tidak di-Arabisasi,” kata Azra.

—Pentingnya NU & Muhammadiyah Bagi Indonesia:

Azra yang juga seorang Sejarawan terkenal, yang dikenal karena karya seminalisnya The Origin of Islamic Reformism di Asia Tenggara: Jejaring ‘Ulama’ Melayu-Indonesia dan Timur Tengah di abad ke-17 dan ke-18, menguraikan tiga poin yang menjelaskan mengapa NU dan Muhammadiyah penting bagi Indonesia .

Pertama, keduanya memperkuat kohesi sosial setelah transisi demokrasi pada tahun 1998. Ketika Indonesia disapu oleh gelombang demokrasi, kedua organisasi ini memainkan peran penting untuk menjaga persatuan bangsa.

Kedua, Pancasila sebagai ideologi negara adaptif dengan konsep Islam jalan tengah yang dipromosikan oleh NU dan Muhammadiyah. Bagi umat Islam arus utama, Pancasila sudah cukup islami. Semua pilar Pancasila pada dasarnya sesuai dengan ajaran fundamental Islam.

Ketiga, umat Islam Indonesia sebagian besar selalu memilih jalan tengah (moderat). Terlepas dari kenyataan bahwa 87 persen populasi Indonesia adalah Muslim, partai-partai Islam tidak pernah memenangkan pemilihan besar—lebih suka partai politik sekuler. Mereka percaya bahwa jalan tengah adalah yang terbaik untuk Indonesia.

Dia berpendapat bahwa, selama NU dan Muhammadiyah menegakkan jalan tengah dan Pancasila, kelompok-kelompok ekstremis tidak akan pernah menang.

“NU dan Muhammadiyah terlalu besar untuk gagal.” [Azyumardi Azra]

Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, mengatakan bahwa para pendukung Islam moderat telah berjuang keras untuk mengekang ekstremisme dan radikalisme agama.

“Ada peningkatan intoleransi, tetapi itu tidak berarti bahwa ekstremisme dan radikalisme juga meningkat,” katanya.

Yenny lebih lanjut berpendapat bahwa keterlibatan beberapa orang Indonesia dalam jaringan terorisme global tidak serta merta mencerminkan kecenderungan umum di negara tersebut.

The Wahid Institute didirikan pada tahun 2004 untuk menghormati ide-ide dan visi intelektual almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden keempat Indonesia yang juga merupakan tokoh besar NU.

Menurut Yenny, NU dan Muhammadiyah telah memberikan kontra-narasi terhadap politik identitas yang sangat memecah belah.

Dua peneliti dari PRIO, Marte Nilsen dan Trond Bakkevig, mengatakan peran organisasi Islam moderat di Indonesia sangat penting bagi munculnya kekuatan Islam baru di luar Timur Tengah. Diungkapkan oleh Nilsen, bahwa Indonesia bisa menjadi contoh Islam moderat bagi masyarakat global.

Secara terpisah, Lubis mencatat meningkatnya dukungan publik untuk pencalonan NU dan Muhammadiyah untuk Hadiah Nobel Perdamaian dari badan-badan nasional dan internasional. Salah satu di antaranya adalah mantan presiden Timor Leste, Jose Ramos-Horta, yang pernah mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1996.

Nah! Yang bukan warga Indonesia saja memberikan dukungan, apalagi kita yang warga negara Indonesia, wabil khusus pengikut Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah. Tentu sudah sewajarnya bagi kita untuk memberikan dukungan, dalam bentuk apapun itu.

Viralkan!

Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *