Jokowi dan Prabowo Bertemu: Tidak Ada Lagi Cebong – Kampret

“Saya mengajak Pak Prabowo naik kereta MRT dari Stasiun Lebak Bulus sampai Senayan, pagi tadi. Ini pertemuan dua orang sahabat yang sudah...

Avatar Written by Ahmad Ali Buni
· 2 min read >
Jokowi dan Prabowo bertemu, tidak ada lagi cebong dan kampret

“Saya mengajak Pak Prabowo naik kereta MRT dari Stasiun Lebak Bulus sampai Senayan, pagi tadi. Ini pertemuan dua orang sahabat yang sudah lama direncanakan. Kesempatan bertemu ini juga untuk mengenalkan MRT kita. Saya tahu Pak Prabowo belum pernah mencoba MRT hehe.” [@jokowi]


Pertemuan Pertama Jokowi & Prabowo Pasca Pemilu

jeparaupdate.co – Sabtu 13 Juli 2019, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto akhirnya bertemu untuk pertama kalinya pasca Pilpres yang sengit pada April kemarin.

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo yang telah dijadwalkan jauh hari seusai Pilpres tidak kunjung menemui kepastian. Hingga tiga bulan pasca Pemilu berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda keduanya akan bertemu. Dan, akhirnya, pagi tadi keduanya bertemu di stasiun MRT Lebak Bulus Jakarta Selatan sekitar pukul 10 dan kemudian naik kereta menuju stasiun MRT Senayan di Jakarta Pusat.

Pada pertemuan itu, tampak keduanya mengenakan kemeja putih dan sempat bersalaman juga berpelukan sebelum melambaikan tangan ke arah wartawan yang datang.

Jokowi - Prabowo Bertemu

Selama 18 menit perjalanan mereka di jalur MRT pertama di negeri kita, kedua mantan saingan itu merasa nyaman satu sama lain dan mengobrol secara pribadi.

Di stasiun Senayan, tempat kerumunan wartawan menunggu, Presiden Jokowi membuat pernyataan bersama dengan Prabowo Subiato.

Jokowi mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan itu, yang ia sebut sebagai “pertemuan dengan seorang teman”, telah direncanakan untuk waktu yang lama, tetapi tertunda karena jadwal mereka yang sibuk.

“Alhamdulillah, pagi ini kita bertemu dan naik MRT karena saya tahu Pak Prabowo belum mencobanya,” katanya.

Bersatu: Tidak Ada Lagi Cebong & Kampret

Beliau menekankan bahwa sekarang setelah pemilu yang sulit dilalui berakhir, para pendukung kedua kubu harus bersatu demi kepentingan nasional.

“Dan kita juga berharap agar para pendukung lakukan hal yang sama karena kita adalah saudara sebangsa setanah air,” ujar Presiden Jokowi usai menaiki MRT dengan Prabowo Subianto.

“Tidak ada lagi yang namanya cebong, tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda, Garuda Pancasila,” ujar Presiden Jokowi merujuk pada masing-masing pendukungnya dan pendukung Prabowo.

“Mari kita menenun persatuan nasional kita karena persaingan global dan persaingan antar negara menjadi semakin ketat sehingga kita membutuhkan persatuan untuk membangun negara ini dan membuatnya maju,” tandas beliau.

Ketika Prabowo mengambil giliran, beliau menjelaskan mengapa beliau belum memberi selamat kepada Presiden terpilih atas kemenangannya.

“Saya katakan saya ini walau bagaimana pun ada ewuh pakewuh, tata krama, jadi kalau ucapkan selamat, maunya tatap muka, jadi saya ucapkan selamat kepada Anda, Pak,” kata beliau sambil menjabat tangan Presiden Jokowi.

Prabowo menekankan bahwa mereka itu adalah teman tetapi harus bersaing satu sama lain tidak lain karena ‘tuntutan politik dan demokrasi’.

Memecahkan lelucon bahwa Presiden Jokowi akan segera memiliki uban di rambutnya—mengingat tugas berat di depan, beliau menambahkan: “Kami siap membantu jika diperlukan demi kepentingan rakyat.”

Dalam sambutannya yang ditujukan untuk berbicara kepada pendukungnya sendiri, Prabowo mengatakan bahwa semuanya adalah “merah putih”—warna bendera nasional—yang berarti bahwa kedua belah pihak harus bekerja sama.

Setelah berbicara kepada media, keduanya menyempatkan untuk makan siang bersama di restoran sate di dekatnya.

Presiden Jokowi didampingi oleh ketua tim kampanyennya Erick Thohir, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Sedangkan Prabowo hadir dengan didampingi sekretaris jenderal partai Gerindra-nya Ahmad Muzani dan politisi Edhy Prabowo.

Pada sore harinya, Sandiaga Uno, yang adalah pasangan calon Prabowo, dan Erick Thohir dijadwalkan untuk berbicara di sebuah acara Millennial tentang kepemimpinan masa depan yang bertajuk “Young Penting Indonesia” di Jakarta Selatan.

Di sela acara itu Sandiaga juga menyerukan hal yang sama, “Memang kita berbeda pilihan pada pilpres lalu, tapi kita punya kesamaan, yaitu yang penting Indonesia. Karena itu saja yang mungkin yang bisa menyatukan kita bahwa ke depan generasi muda mungkin bisa menyikapi perbedaan tapi tidak perlu bermusuhan.”

So … masihkah etiskah untuk mempertahankan polarisasi cebongkampret? Toh, Bapak-Bapak kita tadi sudah menegaskan bahwa persaingan yang terjadi di antara mereka hanya karena tuntutan politik dan demokrasi. Jadi, sudah jelas, ya?


Jangan ada lagi cebong dan kampret di antara kita, karena kita adalah Garuda.


Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *