Berita

Indonesia JUARA 2030

Bossman Mardigu Written by Bossman Mardigu · 2 min read >

JeparaUpdate.co – Dalam 6 bulan ini saya diskusi dengan banyak pejabat pemerintahan di beberapa departemen saya dapatkan satu kesimpulan untuk sementara. Mereka tidak terlalu up date dengan dunia digital, blockchain, 5G, IOT, big data mendecoupling 70% masalah keseharian di dunia saat ini. apa lagi 3 tahun kedepan yang mungkin sudah 90%nya bergeser jauh.

Jadi mereka melihat dunia digital, blockchain, IOT dan sejenisnya hanya dari “common sense” dari naluri akal sehatnya. Yang pasti banyak “nggak pas-nya” karena naluri datang keseseorang adalah dari fakta jalan hidupnya yang berulang ulang menjadi belief sistem dalam pemikirannya.

Apa yang di hadapkan banyak pejabat tinggi ini bukan dunia digital seperti sebenarnya, hanya di fahaminya sebatas handset di genggamannya. Ketika bisa update status, upload foto, merekam video, mengcroping foto, memberi text pada foto dianggap sudah mengikuti KEMAJUAN JAMAN.

Dunia digital atau dunia maya hanya di fahami sebagai apa yang di dunia nyata di online kan. Sesederhana itu.

Ketika new normal di promosikan, new normal itu terjemahannya “silahkan menjalankan kehidupan seperti sedia kala hanya sekarang di tambah protocol covid wajib di jalankan”. New normal adalah kehidupan seperti dulu di tambah protocol covid. Wis mek ngono tok. Begitu pake masker, faceshiel, sarung tangan, lengan panjang monggo, silahkan bertebaranlah kalian di muka umum lagi.

Simple ya berfikirnya dan bertindaknya. Salah? Ya ngak lah. Ya kapasitasnya pemikirannya begitu ya out put tindakanya ya dapatnya begitu.

Kita lompat di dalam mengelola keuangan maka pemikiran nya juga sama, yang penting cadangan devisa di jaga dan jaga inflasi rendah. Wis mek ngono tok.

Didalam stimulus bencana covid fokusnya di “create demand” menjaga daya beli. Sudah hampir 700 triliun stimulus di berikan untuk membangkitkan daya beli, apa berhasil? Ya lihat aja sekarang.

Tapi, gini deh, bagaimana kalau kesederhanaan ini kita bantu? Agar menjadi juara, bukan pemadam kebakaran seperti sekarang.

Kita melenceng sebentar nanti balik lagi ke topik.
Semua team dalam organasasi saya pasti tahu kata RAPALAN yang saya ucapkan ketika ada masalah atau peluang yang harus di selesaikan atau harus di capai bersama , maka saya pasti mengatakan sebuah pernyataan : “saya ngak mau tahu bagaimana caranya, POKOKNYA kita bisa menjadi terdepan, dengan modal sekecil kecilnya, usaha sekecil kecilnya, hasil semaksimum mungkin, memperolehnya dalam waktu cepat, dan semua rakyat senang”.

Ok, maaf saya beri ilustrasi biar kebayang dalam pikiran sahabat semua.

Misalnya bagaimana dinaran dengan team back end di bali dan front end di jakarta kekuatan 21 orang ini dalam 3 tahun dinaran bisa mengalahkan BCA dengan 25.000 karyawan dan 1200 cabang.

Maka kalimat saya adalah “SAYA NGAK MAU TAHU BAGAIMANA CARANYA POKOKNYA dinaran harus bisa melewati BCA dalam 3 tahun dengan modal sekecil kecilnya, usaha semudah mudahnya, lakukan sekarang”.

Team tidak boleh nambah, sarana seperti sekarang, server engine mengikuti pertumbuhan, selalu update dengan teknologi pembayaran, nyambung GPN, Qris, bisa terima dana dari luar negeri, bank custodianya nambah, bisa menerima 20 macam pembayaran dan bisa tranfer ke 20 macam keuangan, dan semua ternyata siap infstratukturnya 15 juli 2020 yang di jadikan hari launcing dinaran setelah beta soft launching 20 mei 2020 kemarin.

Saya ngak tahu apa yang mereka rapatkan, strategikan, debatkan, pokoknya 15 juli ini semua harus mulai di jalankan, melewati BCA. Hahaha gila ya?!!!

Kita lanjut balik ke topik, jadi kalau rumus tadi kita bawa untuk bernegara maka kalimat yang kita akan bawa ke para menteri kabinet dan pejabat teras indonesia adalah sebuah kalimat sesederhana tadi :

“SAYA NGAK MAU TAHU BAGAIMANA CARANYA POKOKNYA” INDONESIA HARUS BISA MENJADI TERDEPAN MENYUSUL TIONG KOK DAN AMERIKA DI TAHUN 2030, DENGAN TANPA HUTANG, TANPA BERGANTUNG ASING.

Percaya saya, dengan rapalan kalimat mantera ini maka semua cara untuk : covid, hutang, kemakmuran, kesehatan, kedaulatan, pendidikan, keamanan, pertahanan apapun pilar negara di sapu dengan STRATEGI SAPU JAGAD menjadikan indonesia JUARA 2030.

Strategi ini tidak parsial seperti hanya covid seperti saat ini.

Mungkin dengan mantera yang kita ucapkan tadi bagaimana indonesia juara dunia 2030 ini banyak anak muda yang bersemangat menyatakan, BISA sementara generasi di atas usia 50 tahun pasti kleyengan, diapain ya negara ini?

Itulah mengapa saya menaruh harapan di bangsa ini kepada anak muda yang terupdate digital yang usianya saat ini di bawah 40 tahun.

Mereka adalah digital warrior nusantara, digital patriotism nusantara, sehingga membuat indonesia digital souverign nya atau kedaulatan digital nusantara kembali kepangkuan ibu pertiwi tidak seperti sekarang dalam dunia digital indonesia tidak berdaulat sama sekali karena generasi yang usianya 50 tahun ke atas ngak faham apa itu digital.

Ekonomi digital yang harusnya bagian dari new normal, keluarga digital, kesehatan digital, bernegara digital, dan digital politik adalah milik generasi muda di bawah 40 tahun.

Dengan pola pikir digital, baru indonesia bisa juara di tahun 2030. Pertanyaan sekarang, siapa yang bisa membawa ini menjadi bukan wacana tetapi langkah segera? #peace

Created Content by Bossman Mardigu

Written by Bossman Mardigu
Ilmu saya itu sangat sedikit dan kampungan. Kalian yang muda-muda, harus hati-hati dengan tulisan dan videoa saya. jangan telan mentah-mentah. Belajarlah juga lebh banyak dari ribuan literasi lain. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *