Edukasi, Sejarah

Membumikan Sosok Gus Dur pada Generasi Milenial

Daftar Isi tutup Siapakah Gus Dur Sebenarnya? Biografi Singkat Gus Dur Cucu Pendiri NU (Silsilah Gus Dur) Pendidikan Gus Dur Masa Kecil...

Avatar Written by Ahmad Ali Buni
· 9 min read >
Gus Dur

Dari semua kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia belakangan ini, membuat nama alm. Gus Dur kembali dirindukan banyak orang.

Tapi, siapakah sebenarnya beliau? Kenapa beliau begitu dirindukan oleh rakyat Indonesia? Melalui artikel ini kami akan mengajak Millennials untuk lebih mengenal sosok Presiden keempat kita ini. Mari ….

Siapakah Gus Dur Sebenarnya?

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa “Gus Dur”, adalah seorang tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil Pemilu 1999.

Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional—nama kabinet yang sekaligus mencerminkan misi beliau pada masa pemerintahan beliau.

Masa kepresidenan Gus Dur dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR.

Gus Dur adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama’ (NU) dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain itu, Gus Dur juga dikenal sebagai seorang Ulama’, reformis, cendekiawan, dan seorang Guru Bangsa.

Gus Dur

Biografi Singkat Gus Dur

Merujuk pada biografi singkat beliau di GusDur.net, nama lengkap Gus Dur adalah KH. Abdurrahman Wahid. Beliau lahir di Jombang pada tanggal 4 Agustus 1940 dengan nama kecil Abdurrahman Addakhil yang berarti “Sang Penakluk”.

Karena nama Addakhil tidak cukup dikenal, nama tersebut kemudian diganti menjadi “Wahid”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur. “Gus” atau yang secara bahasa berarti “mas” atau “abang” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak Kyai.

Cucu Pendiri NU (Silsilah Gus Dur)

Dari silsilah, beliau merupakan cucu KH. Haysim Asy’ari, Pahlawan Nasional yang juga dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU), ormas umat Islam terbesar di Indonesia. Jika ditarik lagi garis silsilah tersebut, maka akan sampai ke Raden Patah (Fatahillah), pendiri dan raja pertama kerajaan Demak.

Pendidikan Gus Dur

Masa Kecil

Karena ayah Gus Dur, KH. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan ditunjuk menjadi Menteri Agama pada tahun 1949, di tahun yang sama pula Gus Dur kecil pindah ke Jakarta. Beliau sempat belajar ke SD Kris sebelum akhirnya pindah ke SD Matraman Perwari.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan dan ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Gus Dur juga diajarkan untuk membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya—Gus Dur juga dikenal sebagai seorang Kutu Buku.

Masa Remaja

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim oleh ibunya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak milik KH. Ali Maksum.

Meskipun SMEP dikelola oleh Gereja Katolik Roma, tetapi sekolah ini sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris.

Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh adalah mengaji pada KH. Ali Maksum, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari Gus Dur ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Kegemaran Membaca Gus Dur

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris.

Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner.

Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov.

Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’.

Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Ingrisnya dan sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran radio Voice of America dan BBC London.

Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri—seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis—memberi buku karya Lenin yang berjudul ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, Gus Dur yang telah memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato, Thales, dan sebagainya.

Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamatnya dari SMEP, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo yang diasuh oleh KH. Chudhari, seorang Kyai yang humanis, saleh, dan guru yang dicintai oleh murid-muridnya.

Kyai Chudhari merupakan sosok yang pertama kali memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke makam-makam keramat para Wali di Jawa.

Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam bercanda (humor) dan berbicara.

Gus Dur juga mengembangkan reputasi sebagai murid yang berbakat, beliau menyelesaikan pendidikan pesantren hanya dalam waktu dua tahun, yang mana seharusnya empat tahun.

Pendidikan di Luar Negeri

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, KH. Abdul Fatah.

Di sini Gus Dur mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai seorang Ustadz. Di samping itu, Gus Dur juga bekerja sebagai seorang jurnalis di Majalah Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar (Kairo, Mesir). Dan selama di Mesir, Gus Dur tergabung dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut.

Karena kejadian G-30S yang meletus tahun 1965, Kedutaan Besar Mesir pada saat itu diperintahkan untuk melakukan investigasi perihal kedudukan politik pelajar Indonesia. Gus Dur tidak sependapat dengan kejadian itu. Dan karena kekritisan pikiran beliau inilah hingga pada tahun 1966, beliau dinyatakan harus mengulang studinya. Setelah itu, Gus Dur memilih untuk pindah ke Universitas Baghdad, Iraq.

Semangat belajar Gus Dur terus diuji. Karena kecewa pendidikannya di Baghdad kurang diakui, beliau memutuskan untuk pergi ke Belanda guna meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden. Tidak sampai di situ saja, Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis.

Fiuh …. Baru mengulas tentang riwayat pendidikannya saja sudah sepanjang ini ….

Lanjut!

Kembali ke Indonesia

Setelah berkelana melanjutkan pendidikannya di Eropa, akhirnya Gus Dur kembali ke Jakarta pada tahun 1971. Gus Dur kemudian bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), yang mana merupakan organisasi kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

Karir Jurnalistik

LP3ES juga mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat inilah beliau merasa prihatin terhadap kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang beliau lihat.

Karena hal inilah, beliau sampai membatalkan niatnya untuk kembali belajar di luar negeri dan lebih memilih untuk mengembangkan pesantren.

Gus Dur meneruskan karirnya sebagai sebagai jurnalis dengan menulis untuk Tempo dan Kompas. Tulisan-tulisannya diterima dengan baik dan mulai mengembangkan reputasinya sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu beliau mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga beliau harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas.

Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, Beliau bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.

Peran di NU

Singkat cerita, tiba saatnya untuk Gus Dur terlibat aktif dalam NU. Beliau sempat menolak dua kali untuk menjadi Dewan Penasihat Agama NU dan lebih lebih nyaman menjadi intelektual publik, namun beliau akhirnya menerima tawaran tersebut dari kakeknya, Bisri Syansuri (ayah Ibunda Gus Dur), pada tahun 1982.

Karir Politik

Pada tahun yang sama, Gus Dur juga mendapat pengalaman politiknya. Saat itu beliau berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah partai gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Namun dalam praktiknya, pemerintah saat itu mengganggu kampanye partai dengan menangkap tokoh-tokoh PPP.

Reformasi NU

Tahun 1983, Soeharto terpilih kembali sebagai Presiden periode keempat oleh MPR dan berniat menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara.

Selama Juni hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini. Gus Dur mengkaji itu berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan akhirnya menyimpulkan akhirnya NU harus menerima Pancasila sebagai Dasar Negara.

Ketua PBNU

Pada tahun 1984, Gus Dur didorong dan terpilih untuk menjadi ketua PBNU. Terpilihnya Gus Dur ini disambut positif oleh Soeharto. Sang Bapak Pembangunan melihat sosok Gus Dur sebagai tokoh moderat yang sepemikiran tentang Pancasila. Akan tetapi, hubungan mereka renggang lagi karena Gus Dur mengkritik proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia.

Selama masa jabatan pertamanya sebagai ketua PBNU, Gus Dur fokus membenahi sistem pendidikan pondok pesantren supaya bisa setara dengan sekolah sekuler. Maklum, dari dulu stigma soal pesantren selalu kalah bagus dibandingkan sekolah reguler. Dan Gus Dur mencoba mengubah itu.

Tahun 1989, Gus Dur kembali terpilih sebagai ketua PBNU di mana pada saat itu Soeharto sedang mengalami konflik internal dengan ABRI. Kemudian, Soeharto yang saat itu ingin menarik simpati Muslim membentuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990. Di sinilah nama Amien Rais pertama kali muncul.

Gus Dur menolak NU untuk bergabung dengan ICMI karena beliau melihat itu hanya akan memperkuat posisi Soeharto. Malahan, Gus Dur justru membentuk forum demokrasi (fordem) yang terdiri 45 intelektual komunitas lintas agama dan latar belakang sosial. Hal ini membuat Soeharto geram dan kemudian sentimen terhadap NU. Hmm.

Sebagai akibat dari fordem ini, tahun 1994, ketika Gus Dur diwacanakan kembali terpilih menjadi ketua PBNU, Soeharto (katakanlah) tidak sudi—tak menginginkan Gus Dur terpilih lagi. Bahkan, Soeharto sampai menyuruh Pak Habibie dan Harmoko untuk berkampanye melawan Gus Dur dan mencoba menyuap petinggi NU lainnya. Namun, pada akhirnya Gus Dur tetap terpilih juga.


Jadi, ada dua orang yang tidak bisa sembarangan disenggol oleh Soeharto:

  1. Gus Dur. Karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan para Kyai. Menyenggol beliau, berarti bisa besar efeknya di kalangan kalangan sipil.
  2. Megewati. Karena dilindungi para loyalis garis keras Soekarno.

—Maka mereka (Gus Dur dan Megawati) mulai beraliansi.


Mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Singkat Cerita, sebagai dampak dari jatuhnya Soeharto jatuh adalah mulai bermunculannya partai-partai politik baru, seperti PAN yang dibentuk oleh Amien Rais dan PDI-P yang dibentuk Bu Mega. Komunitas NU pun meminta agar Gus Dur turut pula mendirikan partai politik baru.

Dan, pada Juli 1998, Gus Dur menanggapi ide itu. Berdasar pada hematnya, mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan dominasi Golkar dalam pemilu. Maka lahirlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Disusul pula pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.

Menjadi Presiden Republik Indonesia

Pada tahun 1999, Amien Rais dan bentukan poros tengahnya, secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai capres dan terpilih dengan 373 suara.

Karena kalah, pendukung Megawati saat itu ngamuk dan tak terima. Karena tidak bisa berada dalam situasi chaos lebih lama lagi, Gus Dur kemudian menjadikan Bu Mega sebagai wakil presidennya setelah melakukan lobby dengan Wiranto agar tak ikut maju sebagai kandidat wapres dan menang atas Hamzah Haz (calon dari PPP).

Setelah resmi menjabat sebagai Presiden RI, Gus Dur melakukan dua reformasi besar di pemerintahan:

  1. Membubarkan Departemen Penerangan, yang mana pada saat itu dianggapnya sebagai senjata rezim Soeharto untuk menguasai media.
  2. Membubarkan Departemen Sosial, yang mana pada saat itu dinilai sebagai ladang korupsi.

Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa beliau mendorong penggunaan nama Papua.

Gus Dur mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina yang dibuat rezim orde baru. Lalu menerbitkan Keppres No. 2 tahun 2000. Keppres ini yang akhirnya membuat rakyat etnis Tionghoa bisa merayakan Imlek secara terbuka dan menjadi hari libur nasional.

Dengan dicabutnya Inpres tahun 1967 tadi dan munculnya Keppres No. 2 tahun 2000, negara akhirnya mengakui Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi yang diakui. Gus Dur tidak ingin ada sikap diskriminatif terhadap minoritas etnis Tionghoa dan menganggap mereka sebagai Warga Negara Indonesia yang setara.

Sifat humanisme yang dimiliki Gus Dur memang luar biasa. Meski mendapat banyak hujatan dan tentangan, beliau tetap mengusulkan untuk mencabut Ketetapan MPR No. 25 tahun 1966, yang menjadi dasar sikap diskriminatif terhadap mereka yang masih terafiliasi dengan PKI.

Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik.

Lengser dari Jabatan Presiden

Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. Pemakzulan terhadap Gus Dur ini disebabkan oleh persoalan hukum kasus Bruneigate dan Buloggate seperti yang dituduhkan selama ini. Benarkah seperti itu?

Di sinilah guna sejarah ….

Pemakzulan terhadap Gus Dur bukan disebabkan oleh dua skandal di atas. Hal itu terbukti dengan putusan pengadilan. Selain itu, tidak ada konstitusi yang dilanggar oleh Gus Dur.

Dilansir dari BeritaSatu.com, Luhut Binsar Panjaitan yang sempat menjadi menteri saat Gus Dur berkuasa berkata:

“Saya lihat tidak ada aspek korupsi karena pengadilan sudah memutuskan tidak. Beliau juga tidak melanggar konstitusi. Nah oleh karena itu, saya lihat pelengseran itu menyangkut masalah politik.”

Sejarah ini yang harus diluruskan agar tidak terjadi simpang siur di masa depan terkait dilengserkannya Gus Dur sebagai Presiden sebelum masa jabatannya berakhir.

Gus Dur adalah sosok yang membawa perubahan besar di tubuh NU—pun pada Indonesia, sehingga sangatlah wajar jika para Kyai dan Santri NU menaruh hormat pada beliau. Bahkan, bersedia mati untuknya. Namun, inilah kebesaran dan kemuliaan “Guru Bangsa” kita, Gus Dur merelakan dirinya lengser demi menghindari pertumpahan darah yang sia-sia.

Perihal ini pernah dijawab oleh beliau sendiri saat diwawancarai dalam acara Kick Andy, di situ beliau berkata:

“… biar sejarah yang menjawabnya.”

Keluarga

Seperti yang umum diketahui, Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah. Dari kehidupan pernikahannya tersebut gus Dur dikaruniai empat orang anak, yakni Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Dari keempat anaknya tersebut, Yenny menjadi satu-satunya anak Gus Dur yang aktif berpolitik di PKB dan saat ini merupakan direktur dari The Wahid Institute.

Wafat

Gus Dur wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo (Jakarta) karena berbagai komplikasi penyakit seperti jantung dan gagal ginjal yang telah lama dideritanya.

Penghargaan

Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award untuk kategori Kepemimpinan Sosial pada tahun 1993.

Gelarnya sebagai “Bapak Tionghoa” diberikan oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004.

Gus Dur mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM.

Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena beliau dinilai memiliki keberanian untuk membela kaum minoritas, salah satunya adalah usaha beliau dalam membela umat Konghucu agar mendapatkan hak-hak dan kesetaraan yang sama.

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Gus Dur juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Dan meski sudah meninggal, Gus Dur memperoleh Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, istri beliau.

Sebagai generasi Milenial, mengenal Gus Dur ternyata sehebat ini. Dulu, banyak orang-orang yang bilang kalau Gus Dur itu Ulama’ ngawur dan lain sebagainya, terlebih sejak pencalonan Presiden, banyak sekali isu-isu yang ditujukan untuk menjatuhkan citra beliau.

Tapi …. Sekarang rasanya butuh sekali akan sosok beliau.

Banyak orang yang bilang kalau pemikiran Gus Dur “terlalu maju” untuk bisa dipahami orang-orang pada masa itu. Benar saja, kita sendiri baru merasakannya sekarang, bahwa pemikiran-pemikiran beliau saat ini justru relevan.


Referensi:

  • Membumikan Sosok Gus Dur pada Generasi Milenial, thread: http://bit.ly/2Lq1VNz
  • Biografi Gus Dur: http://bit.ly/2IW2qO0
  • Biografi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Presiden Indonesia Keempat: http://bit.ly/2Nk9IiQ
  • Meluruskan Fakta Sejarah Lengsernya Gus Dur: http://bit.ly/2RELApo

“Saya tidak peduli, mau popularitas saya hancur, difitnah, dicaci maki atau dituduh apapun, tapi bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari perpecahan.”

— Gus Dur —


 

Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

Kritik Atas Feminis Liberal

aliftlkh in Edukasi
  ·   1 min read

Feminis Liberal

aliftlkh in Edukasi
  ·   1 min read

3 Replies to “Membumikan Sosok Gus Dur pada Generasi Milenial”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *