Opini

Akankah Pemindahan Ibukota Indonesia Menjadi Kisah Sukses?

Bisakah Indonesia mengatasi masalah yang mengganggu ibukotanya yang sudah terlalu padat dengan memindahkan 1,5 juta orang pegawai negeri ke Kalimantan Timur?

Avatar Written by Ahmad Ali Buni · 4 min read >
Akankah pemindahan ibukota Indonesia menjadi kisah sukses?

JeparaUpdate.co – Bisakah Indonesia mengatasi masalah yang mengganggu ibukotanya yang sudah terlalu padat, Jakarta, dengan memindahkan 1,5 juta orang pegawai negeri ke Kalimantan Timur?

Inisiatif tersebut telah direncanakan selama beberapa dekade. Presiden Indonesia periode 2019-2024,
Joko Widodo, telah mengumumkan bahwa pembangunan ibukota baru akan dimulai tahun depan,
sementara menunggu persetujuan parlemen.

Meskipun banyak negara di dunia yang memiliki ibu kota yang dibangun secara khusus—diantaranya
Malaysia, Myanmar, Australia, dan Brasil—desainer dan arsitek perkotaan Maud Cassaignau, dari
Monash Art Design and Architecture, meyakini bahwa Indonesia adalah negara pertama yang
membangun sebuah kota dengan alasan lingkungan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Jakarta telah mencapai tingkat polusi yang lebih buruk dibandingkan
dengan kota Delhi dan Beijing—keduanya terkenal karena kualitas udaranya yang buruk. Kemacetan lalu
lintas juga terbilang parah di kota ini, berkontribusi menimbulkan kabut asap hingga membebani ekonomi
nasional sekitar 100 triliun rupiah per tahun.
Sungai.

Sungai yang mengaliri kota: Bagian Jakarta yang dibangun di atas rawa sudah sangat tercemar.
Sungai yang mengaliri kota: Bagian Jakarta yang dibangun di atas rawa sudah sangat tercemar.

Namun banjir juga bisa dikatakan sebagai masalah yang lebih buruk. Jakarta dibangun di atas rawa, dan
dilewati oleh 13 aliran sungai. Kota ini semakin tenggelam oleh banjir hingga 25 sentimeter per tahun,
dan begitu pula tanggul laut yang dirancang untuk melindungi daerah dataran rendah di utara. Permintaan air minum yang tinggi, sebagian besar diekstraksi dari sumur bawah tanah, juga berkontribusi
terhadap fenomena ini. Diperkirakan 95 persen Jakarta akan terendam banjir pada tahun 2050.

Seolah hal tersebut tidak cukup, gempa bumi dan gunung berapi juga menimbulkan ancaman di pulau
Jawa. “Sistem perkotaan cenderung akan lebih aman dari kehancuran akibat suatu peristiwa jika Anda
mendesentralisasi layanan,” kata Dr. Cassaignau. “Membangun kota-kota baru merupakan hal yang tampak menarik karena Anda dapat menciptakan situasi yang murni. Anda berada di ruang kosong. Jauh
lebih mudah untuk membuat sesuatu yang progresif, dan meninggalkan masalah yang lalu.”

Jakarta sebagai kota terbesar di Asia Tenggara, akan tetap menjadi pusat komersial dan keuangan
Indonesia. Ini adalah salah satu aglomerasi perkotaan terpadat di bumi, tempat tinggal bagi 30 juta
penduduk, dengan 10 juta penduduk di Jakarta pusat dan sisanya di daerah-daerah di sekitar kota.

Apakah pemindahan ibukota malah akan menimbulkan lebih banyak masalah?

Memisahkan fungsi ekonomi dan administrasi Jakarta dapat menciptakan serangkaian masalah yang
berbeda pula, Dr. Cassaignau memperingatkan, jika hal itu dapat mengakibatkan sekelompok birokrat elit
membuat keputusan yang mempengaruhi orang-orang yang jauh dari mereka, baik secara geografis
maupun secara sosial ekonomi.

Biaya untuk memindahkan ibukota 1000 kilometer ke utara selama 10 tahun diperkirakan mencapai 466
triliun rupiah (48,7 miliar Dolar Australia). Penduduk Indonesia berencana untuk berkontribusi sebanyak
19 persen yang merupakan hasil kemitraan publik-swasta dan investasi swasta. Dr Cassaignau
memperingatkan pengaturan itu dapat menciptakan “perangkap utang”, terutama jika kota ini tidak
berkelanjutan secara ekonomi.

Ekonom pemenang Nobel Prize, Paul Romer, berpendapat bahwa menciptakan kota-kota untuk kelas elit
pada awalnya bekerja dengan baik bagi investor yang membangun blok apartemen dengan laba tinggi.
Namun beliau menunjukkan bahwa kota-kota sukses adalah rumah bagi orang-orang dari berbagai latar
belakang, yang berkumpul karena berbagai alasan.

Kota-kota baru dapat berfungsi jika mereka berlokasi di pusat transportasi, misalnya, tempat orang
berkumpul untuk bertukar barang dan ide. Dr. Cassaignau memberikan contoh yang tidak terduga
tentang Khorgas, yang berkembang dengan cepat di perbatasan China-Kazakhstan di Jalur Sutra Baru,
tempat yang dulunya merupakan dataran tinggi kosong. Di Eropa, kota Lille yang bersejarah di Perancis
utara sekarang menjadi pusat jaringan kereta berkecepatan tinggi Eropa, dan telah menjadi pusat
investasi dan kreativitas.

Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa ibukota baru akan dibangun di atas tanah negara yang ada di
dekat kota pelabuhan Balikpapan dan ibukota provinsi Samarinda. Dr Cassaignau mengatakan masih
belum jelas apakah kota yang baru ini akan diintegrasikan dengan pusat-pusat kota yang ada—seperti
yang beliau harapkan—atau apakah itu akan dibangun sebagai daerah terpisah.

Samarinda
Ibukota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, dekat dengan lokasi kota yang baru yang direncanakan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menggambarkan lokasi, di pusat geografis Indonesia, sebagai lokasi yang
“sangat strategis”. Namun beberapa minggu kemudian, di daerah tetangga yang memproduksi minyak
kelapa sawit di Kalimantan Barat dan Tengah terjadi kebakaran hutan yang sangat merusak. Banyak
yang sengaja melakukan pembakaran lahan sekitar sebulan setelah Presiden Widodo mendeklarasikan
moratorium permanen deforestasi di Indonesia. Kesenjangan antara retorika dan kenyataan telah
membuat pengamat skeptis tentang klaim yang menyatakan bahwa ibukota baru akan memberikan
kesempatan untuk rehabilitasi hutan di sekitar Kalimantan Timur.

Namun jika orang Indonesia menentang pembukaan lahan yang berlebihan, ibu kota baru tersebut dapat
memberikan kesempatan untuk menciptakan pusat kota yang disesuaikan dengan iklim di daerah tropis,
ujar Dr. Cassaignau. Gedung kaca dengan gaya internasional bukanlah model yang berkelanjutan,
katanya.

“Ada hal-hal menarik yang dapat Anda lakukan. Anda dapat menggunakan strategi pasif untuk
menjaga bangunan tetap dingin di iklim tropis, jadi Anda tidak perlu pendingin udara, dengan melihat
bagaimana bangunan berorientasi, menggunakan ventilasi silang untuk mendinginkan, langkah-langkah
teduh seperti tenda, atau fasad berlubang. Atau Anda bisa menemukan cara membangun yang mengacu
pada cara hidup masyarakat lokal.”

“Desain perkotaan yang peka terhadap air mencari cara yang tepat untuk mengintegrasikan alam di kota,
menangkap air di musim hujan, mempertahankannya, memurnikan lahan basah dan menggunakannya di
musim kemarau. Itu bisa digunakan untuk mencegah banjir.”

Menangani masalah Jakarta yang ada

Dr. Cassaignau juga berharap kemacetan, polusi, dan banjir di Jakarta yang mendorong pemindahan
ibukota ke Kalimantan akan dapat ditanggulangi begitu pegawai negeri telah pergi.

Beliau memberikan contoh langkah-langkah mitigasi banjir yang diperkenalkan di kota pelabuhan
Belanda, Rotterdam, termasuk kotak air yang dirancang untuk diisi dengan hujan saat dibutuhkan, namun
dapat berfungsi sebagai amphitheatre atau tempat berkumpul. Di kota Chennai, India, yang juga rawan
banjir, pemerintah setempat telah mencari cara untuk memulihkan danau yang pernah menghiasi kota
tersebut.

Terlepas dari masalahnya, Jakarta diperkirakan akan terus tumbuh—semakin banyak orang pindah ke
kota tersebut, tidak hanya dari Indonesia, namun dari seluruh dunia. “Karena dunia semakin
terurbanisasi, banyak kota, terutama di daerah tropis, sangat rentan,” kata Dr. Cassaignau. “Jadi, Anda
akan melihat lebih banyak kota yang menghadapi dilema relokasi seperti ini.”


Tentang Universitas Monash

Monash University didirikan di Melbourne, Australia pada tahun 1958. Kami adalah organisasi yang berjiwa muda,
antusias, optimis, dan mudah diakses. Kami percaya pendidikan dan penelitian yang berkualitas dapat mengubah
dunia menjadi lebih baik. Di Monash, keinginan untuk membuat perbedaan menginformasikan semua yang kami
lakukan. Namun kami tidak hanya sampai sebatas niat baik saja. Kami membuat dampak, baik secara lokal maupun
internasional.

Kami adalah universitas global dengan kehadiran di empat benua. Monash adalah tempat penemuan
yang dinamis. Dengan lebih dari 8000 staf akademik di berbagai kampus, termasuk Malaysia dan kemitraan
internasional, ini adalah universitas terbesar di Australia. Melalui kemitraan industri dan kolaborasi dengan
pemerintah dan organisasi lain, banyak dari penemuan itu diterjemahkan ke dalam inovasi yang memiliki manfaat
langsung bagi masyarakat.

Tentang Maud Cassaignau

Maud adalah perancang, arsitek, kritikus, peneliti dan pendidik perkotaan yang berpraktik. Beliau bekerja dalam
praktik kerja unggulan di Eropa dan AS, dan merealisasikan proyek dengan ini dan praktiknya sendiri XPACE di
Eropa. Beliau belajar di Universitas ETH Zurich dan Universitas Columbia. Beliau mengajar di Politeknik Swiss, dan
memegang posisi profesor di Universitas Ilmu Terapan Swiss Barat, dalam bidang arsitektur dan konstruksi. Praktik
dan penelitian PhD-nya berkisar pada interaksi desain, tempat, dan iklim, yang bertujuan untuk menemukan solusi
desain yang responsif secara sosial dan lingkungan.

Written by Ahmad Ali Buni
"Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *